La Pere d’Adnan

Salinan dari: KUN.CO.RO:

Kali ini aku mau cerita tentang Bapaknya Adnan. Tokoh ini bekerja sebagai administratur dan penerjemah. Selain bahasa Arab dan Prancis, ia juga bisa bahasa Spanyol. Ia menyeberangi lautan luas (seluas selat Jabal Tarik dan Kanal Inggris) untuk menjumpai anaknya di Coventry. Dan di sanalah ia ketemu Koen si pengacau.

Act 1.

Adnan: Koen, here’s my father.
Koen: Hi, Sir. Nice to see you.
Bapak: Are you from Pakistan?
Koen: Oh, noo
Bapak: Where are you from?
Koen: Indonesia
Bapak: Are you muslim?
Koen: Why, yes.
Bapak: Alhamdulillah.

Trus makan bareng. Trus naik bis bareng. Trus aku kuliah.

Act 2.

Si Bapaknya di kampus sendirian. Ntah si Adnan ke mana. Bis penjemput sudah datang. Aku bilang ke sopirnya, mau jemput Bapaknya Adnan dulu.

Koen: We have to go now, Sir.
Bapak: But I’m Adnan’s father
Koen: I know
Bapak: Are you his friend?
Koen: Sure.
Bapak: Muslim?
Walah, nanya lagi.
Koen: Sure.
Bapak: From Pakistan?
Waduh biyung.
Koen: Indonesia, Sir. Let’s go now.

Jadi dia ikut aku. Kan orang muslim tidak akan menyesatkan :). Hmmm, emang kalau aku atheist pengikut Dawkins, trus aku bakal menyesatkan yach? Ah, pasti belum belajar Game Theory :). OK, so Adnan akhirnya masuk bis, terlambat, sambil dicemberuti si sopir.

Act 3.

Bapak si Adnan sendirian di meja. Anaknya masih cari cemilan sana sini. Aku duduk di sebelahnya.

Koen: Assalaamualaikum
Bapak: Alaikum salam. Are you muslim?
Koen: Alhamdulillah, still a muslim.
Bapak: But you are from India
Hmmm, setidaknya mulai geser ke timur. Mungkin besok pagi ke Bangladesh, trus 3 hari lagi sampai ke daerah Patani.
Koen: Nnnnnn, no no no. I’m from Indonesia.
Bapak: Muslim?
Koen: Insya Allah, Sir.

Trus … dia ikut makan dari piringku. Duh lagi kangen Bapakku sendiri. Kayaknya bahagia bener dapat Bapak baru :). I mean it.

Kasus VoIP

Akhir abad lalu, belum ada aturan VoIP di Indonesia. Beberapa pengusaha mencoba peruntungan dengan menjadi gateway2 VoIP kecil2an, dan bahkan membentuk jaringan. Lalu salah satu yang di Surabaya ditangkap, entah dengan alasan apa. Beritanya dimuat di Pikiran Rakyat. Dalam berita itu, tersangka di Surabaya memaparkan jaringan yang dioperasikannya, termasuk node Bandung. Membaca berita di koran itu, Polwiltabes Bandung bergerak melakukan penggerebekan. Tapi, tentu karena sifatnya karena membaca di koran, bukan berkoordinasi dengan Polwiltabes Surabaya misalnya, jadi mereka juga belum tahu apa yang harus dicari, dan apa sebabnya mereka harus menggerebek. Mereka hanya takut merasa bodoh kalau tidak melakukan penggerebegan, sementara berita kriminalitas itu sudah dipampang di media, lengkap dengan alamat. Maka akhirnya, mereka meminta bantuan Telkom Kandatel Bandung. Dan dari Telkom, kami menyempatkan diri meninjau lokasi. Ada PC yang jadi gateway, ada beberapa line telepon, dst, dst. Sisanya rumah biasa. Itu disita. Kami pulang. Dan ujug2, namaku tercatat sebagai saksi ahli. Ahli nujum. Dan besoknya harus ke Polwiltabes untuk memaparkan kesaksian.

Sang pengusaha bernama Adrian. Dia sudah dalam sel. Semua perangkat disita. Tapi polisi belum tahu apa itu VoIP, dan bahkan apa itu Internet. Jadi tugas awalku adalah memberikan kuliah singkat tentang. Tim penyidik diketuai Kapten Teguh (waktu itu pangkat di polisi masih mencontek AD). Tapi aku kemudian hanya diwawancarai oleh para anak buat sang Kapten.

Para polisi itu ingin sekali agar kasus ini jadi kasus besar, dan mencoba membawanya ke pasal2 korupsi, pencurian pulsa, dll. Tapi dengan diagram2, aku mencoba meyakinkan bahwa yang terjadi hanyalah usaha penyelenggaraan jasa telekomunikasi tanpa lisensi. Sebenarnya pihak Telkom tak perlu dilibatkan. Soal2 lisensi adalah bagian dari tugas Dirjen Postel. “Tapi kan Telkom dirugikan,” sergah sang polisi. Aku mencoba menunjukkan beda antara loss opportunity dengan fraud. “Telkom juga sudah punya teknologi ini. Tinggal disusun mekanisme bisnis dan regulasinya,” kataku. Benar2 hanya soal lisensi usaha. Kami tak menemui titik temu. Tapi hari sudah siang, dan laporan harus ditulis.

Maka WS7 pun dibuka di atas MSDOS Pak Polisi. Aku duduk di depan meja. Pusing, belum makan, dan berada dalam posisi yang tak menarik. Perlahan2, Pak Polisi mengulang pertanyaan, dan aku harus menjawab perlahan untuk diketik. Tapi entah pusing, entah pi-koen, aku selalu menyebut nama tersangka sebagai “Tersangka Teguh,” untuk mana Pak Polisi harus berhenti untuk memelototiku, sebelum aku menggantinya dengan “Tersangka Adrian.” Begitu terus sampai sore. Aku tahu aku pikun. Tapi kenapa aku harus memilih nama Kapten Teguh buat nama tersangka. Kurasa ada bagian hatiku yang terus protes. Aku rasa aku berhasil meyakinkan para polisi itu bahwa mereka memilih orang yang salah sebagai saksi ahli. Ahli nujum. Eh, tadi sudah ditulis.

Sore, akhirnya aku baru bisa keluar ruang. Tersangka Teg, eh Adrian duduk lesu di depan. Aku menghampiri, dan menyalaminya, sebagai sesama korban kekurangpengetahuanan pihak polisi.

Adrian berujar lirih, “Tolong saya, Pak.”
Aku cuman bisa bilang, “Ya, saya sudah tangkis tuduhan yang nggak2. Sekarang cuma soal lisensi.”
Adrian berkata lagi, “Tunggu saya, Pak.”

Duh, aku bener2 nggak suka meninggalkan dia. Tapi aku sudah seharian di tempat yang menyeramkan itu. Aku harus pergi.

Maafin aku, Pak Adrian.

Buronan Natwest

Anda2 pikir cerita di sini lucu? Nah! Nggak ada artinya dibandingkan kelucuan seorang Fajar. Sayangnya site ini cuman membahas soal kepikoenan. Jadi tak banyak yang bisa dikisahkan tentang Fajar di sini. Salah satunya adalah Natwest.

Kami pulang dari Edinburgh dengan coach yang sama. Birmingham masih satu county dengan Coventry. Fajar memutuskan terus ke Coventry untuk sebuah urusan yang berkenaan dengan notebook. Maka di pagi dingin itu (tak sedingin Edinburgh) kami ada di pusat kota Coventry. Menggigil aku menatap jalan, sementara Fajar mencoba mengambil uang di ATM di samping pintu Natwest Bank. Trus tiba2 ada makian ringan. “Uangnya nggak keluar dan ATMnya tertelan.” Dia mulai menekan2 tombol secara acak. Aku menyarankan menunggu sampai bank buka. Tapi Fajar mulai memukuli ATM. Trus menyerah.

Aku melihat2 etalase Waterstone’s waktu aku lihat Fajar berargumentasi di pintu bank dengan seseorang. Kelihatannya pembersih ruangan baru datang. Duh, temenku ini, udah memaksa masuk. Aku tarik lagi. Trus antri di pintu. Jam 10 bank baru buka. Melesat Fajar ke dalam, ke teller, lalu mendamparkan diri ke CS, dan mengadukan kasusnya secara keras.

CS menginformasikan bahwa mereka tidak dapat membuka mesin, dan ada divisi tertentu yang akan menangani. Mudah2an siang ini bisa diambil. Fajar malah marah. Aku jadi menjauh. Tapi masih terdengar ucapan “Stupid, stupid you know.”

Aku melihat dari jauh. Kelihatannya Fajar membuka dompet, mencoba menunjukkan kartu identitas. Tapi mendadak, dia jalan ke arahku. Agak panik.

“Koen, kok kartunya ada di dompetku?”
“Loh, yang tertelan apa tadi?”
“Nggak tau. Mungkin udah keluar trus aku masukin dompet.”

Aku yakin sekian belas CCTV menatap kami. Jadi aku nggak bilang apa2. Aku gaet tangannya dia, dan dengan langkah perlahan tapi pasti kami meninggalkan bank. Fajar mau belok ke ATM, tapi aku tarik terus, terus ke timur, ke arah kampus.

“Selamat ya. Mukul2 ATM. Mencoba masuk ke bank yang belum buka. Memaki2 CS. Sekarang kita udah jadi buron di Natwest.”

Akhirnya Fajar ambil uang di ATM bank lain dekat kampusku.

Dan itu bukan satu2nya trouble ciptaan Fajar.

Para Presenter

Yang ini kisah Pak Nyoman yang baru pulang dari Jakarta. Dan langsung aku wawancarai.

“Kemarin sehari atau dua hari, Pak?”
“Dua.”
“Menginap?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Di hotel …”
“HI ya?”
“Bukan, dekat Multimedia situ.”
“Mmm, apa namanya?”
“Itu lho … duh lupa. Presenter yang itu lho.”
“Presenter? Sony Tulung?” (Ntah kenapa kok aku langsung inget Sony Tulung ya)
“Bukan. Satu lagi.”
“Mmm … Tantowi Yahya?”
“Eh, saudaranya, siapa itu?”
“Saudaranya? Helmy Yahya? Itu saudaraan ya?”
“Ya itu. Siapa tuh yang suka bareng Helmy Yahya?”
“Alia Rohali?”
“Nah itu dia. Hotel Alya.”

OK, OK. Tapi kenapa tadi pakai “saudaranya” ya? Untuk orang yang lagi lupa, ini terlalu meyakinkan :D.

Adiknya Kuncoro

OK, waktunya menceritakan kelupaannya orang lain lagi :). Gantian donk.

Kakak dan adik-adikku semuanya pemain teater, waktu di SMA (SMAN 3 Malang, kalau aku nggak lupa). Dan cukup outstanding. Dari ketiga makhluk teater itu, hanya Dewi yang betul2 pernah sharing SMA bareng aku. Jadi kalau Dewi sedang berakting dengan kerennya di atas panggung, aku ikut menikmati teriakan “Itu adiknya Kuncorooo.”

Trus aku lulus. Tapi bukan berarti nggak nonton teater. Tetep aja menyempatkan diri ke Pagelaran Seni tahunan yang dulu selalu digelar di … duh apa namanya, lupa. Trus nonton bareng beberapa temen sesama alumni. Dan waktu Dewi tampil, temen di sebelahku (kakak kelas di SMA, waktu itu satu kampus dengan aku) dengan semangat teriak, “Itu adiknya Kuncoro!” Melihat aku diam menatap panggung, dia memegangku, trus teriak lagi, “Itu lho, adiknya Kuncoro.”

Aku jadi curiga. “Kuncoro yang mana sih?”
“Itu lho, Kuncoro yang Elektro. Itu adiknya Kuncoro. Masa sih nggak tahu?”

Ya, aku nggak bisa menyalahkan orang yang inget tokoh bernama Adiknya Kuncoro, sambil melupakan siapa yang beneran namanya Kuncoro. Nggak bisa. Soalnya aku juga lupa namanya dia.

Penampakan

Kalau lupa boleh memilih :). Kadang2 lupa bukan berarti sama sekali gelap. Kadang cuma akses database yang lambat. Dan karena memori mengenai satu hal tidak disimpan di satu tempat, melainkan bergaya holografis di beberapa tempat (aku lupa kapan aku pertama kali punya ide macam ini), maka kadang ingatan muncul sebagian, dalam bentuk tak terduga.

“Siapa nama ….?”
“Sebentar. Lupa. Eh, aku melihat huruf D. Tunggu. Da. Errr. Tunggu sebentar.”
Biasanya orang memahami kebiasaanku yang satu ini, jadi nggak pernah menuduh aku over acting atau bergaya dibuat2. Tulus deh, memang memori keluarnya kadang sehuruf demi sehuruf.

Yang ini lebih kacau lagi:

“Apa sih nama font untuk Committed 2 U?” kata mahasiswa yang mau merancang web itu.
Aku merasa tahu. Tapi kenapa nggak inget ya. Tapi sebentar kemudian,
“Tunggu, aku merasa ada hubungannya dengan Simpang Raya. Entah apa.”
Diam semua.
“Oh, sekarang malah huruf W melingkar kayak Committed 2 U.”
Dan akhirnya:
“Namanya Wendy!!”
Protes: “Kok Simpang Raya?”
Diam lagi.
“Kayaknya dulu Wendy’s di Dago ditutup. Trus nggak lama diganti jadi RM Simpang Raya.”

Yang ini tak terlalu kacau:

“Jadi tanyanya ke siapa?”
“Yang pegang data Flexi itu … itu lho, anaknya gemuk dan baik hati.”
“Siapa?”
“Wajahnya udah ada. Namanya lupa. Eh, suaminya Eva, tahu kan?”
“Nggak. Siapa namanya?”
“Duh, nyerah deh. Gini deh, aku tau2 inget nomor HPnya 70700613. Telepon ke dia aja. Sekalian tanyain namanya.”

Sorry ya, Oom Ahsan, aku waktu itu lupa beneran :).

e-Government

Pertengahan tahun 2002, aku disibukkan dengan kegiatan dakwah e-Government ke seluruh wilayah Jawa Barat dan Banten. Inti ceritanya bukan menjual software yang dilabeli e-Government, tetapi berbagi knowledge dan konsep akan e-Government kepada pemerintah Kota dan Kabupaten, sehingga mereka siap melayani masyarakat lebih baik dengan infrastruktur informatika; bukannya malah tertipu penjual software yang mengaku eGov.

Jadi di suatu tengah malam, aku harus berangkat menyerang kota Serang, ibukota Banten, untuk hearing dengan gubernur dan ketua DPRD provinsi Banten. Pesan dari Deputi-EGM (waktu itu Divre III lupa punya EGM –red) adalah: jangan lupa bawa jas. Jadi aku bawa jas, biarpun akhirnya nggak dipakai. Paginya, di gedung gubernuran Serang, baru aku sadar bahwa selain Delegasi Divre III, ada Delegasi Divre II juga yang diundang. Setelah berunding, kami putuskan bahwa karena (1) Serang ada di wilayah Divre II (2) biarpun sebagian besar Banten ada di wilayah Divre III tetapi sebagian besar manusia merupakan warga Divre II (3) tamu dari Divre II lebih senior daripada Divre III, maka presentasi akan disampaikan oleh Divre II saja. Divre III akan mendampingi tanya jawab.

Dengan posisi lebih santai, aku mulai buka tas, ambil notebook; dan baru sadar: semua materi presentasi e-Government yang sudah dikostumisasi untuk provinsi Banten tak terbawa. Tertinggal.

Dan aku langsung bersyukur, bahwa ada rekan2 dari Divre II yang ikut hadir hari itu :).

Ujian Skripsi

Ujian skripsi: bukan saat yang tepat untuk becanda dengan kepikunan. Tapi itulah yang terjadi. Sekian tahun lalu, biarpun aku udah jadi minoritas mahasiswa yang punya notebook (notebook ini sekaligus juga merupakan komputerku yang pertama), dunia belum akrab dengan proyektor yang terinterface dengan konektor VGA di notebook. Juga, mungkin kejutan untuk Anda yang hidup di masa kini, PowerPoint belum populer. Oh, aku mengetik skripsi dengan WordPerfect, dan menggambar dengan DrawPerfect. Materi presentasi digambar rapi dengan DrawPerfect, lalu dicetak di atas transparan.

Dan tentu saja transparan itu tertinggal.

Dasar si pikun yang beruntung, dari 11 orang yang diuji hari itu, aku dapat nomor urut 11. Dan sekali sesi ujian, 5 ruang dipakai menguji 5 mahasiswa. Jadi aku satu2nya di sesi 3. Kalau aku pulang, tapi dipanggil masuk waktu belum balik, maka aku gugur. Tapi kalau aku masuk tanpa membawa materi, aku cuma memamerkan diri sebagai mahasiswa kacau yang nggak punya persiapan. Dalam dilema itu, aku langsung menggaet Aries. Ini teman jelmaan malaikat :). Selain punya kesetiakawanan yang tak pernah diragukan, dia punya kenekatan yang juga tak pernah diragukan. So, aku kirim Aries ke rumah tanteku (dia belum pernah ke sana, belum tahu posisi rumahnya), untuk dengan cara apa pun mengambil transparansiku. Zzzzz.

Sesi 1 berlalu. Sesi 2 berlalu. Satu per satu keluar ruang ujian. Aku tinggal menunggu waktu diapnggil. Dan Aries yang ajaib tampil gemilang dengan wajah bangga membawa transparansiku. Belum sempat berujar 1000 terima kasih, aku sudah dipanggil masuk. Alhamdulillah, segalanya baik dalam ujian itu.

Tapi coba, apa yang dilakukan Aries? Pertama, dia harus cari rumah berdasar alamat saja, di sebuah perumahan baru yang luas sekali. Kedua, penghuni rumah semuanya pergi, selain seorang pembantu yang nggak tahu bahwa aku bernama Kuncoro :). Teknik negosiasi ala Aries betul2 bermanfaat di sini. Dan teknik ngebut. Kampusku di ujung barat kota, dan rumah itu di ujung timur kota.

Well, Lord Aries, kalau suatu hari tersesat ke blog ini, aku mengaku berhutang nyawa. Call me :).

Kiri Satunya

Aku baru sadar bahwa Oom Jos juga punya masalah dengan soal kiri kanan. Keturunan Mama, kali. Tapi aku pikir sih, dari semua orang dekatku yang nggak pernah bisa ingat mana kiri dan mana kanan, belum ada yang separah Ziggyt.

Jadi navigator di perjalanan Malang – Turen yang amat sangat basar berbadai (sampai kami masuk got dan harus melaju dengan rem basah), Ziggyt menambah satu kosa kata. “Ke kiri,” kata Ziggyt. Aku langsung belok kiri.
Ziggyt langsung teriak, “Bukan, kiri satunya.”
“Oh, orang lain bilang sih, namanya kanan.”

Di situasi yang lebih tak mengancam nyawa (oh ya, di dekat Turen kami nyaris masuk jurang gara2 rem basah itu), Ziggyt memecahkan banyak rekor. Soal kiri kanan di komputer, selalu jadi perdebatan. Kiri itu … kirinya kita yang menatap monitor, atau kirinya si monitor?

Tapi Ziggyt barangkali memang terlahir jadi ekstrimis. Udah masuk kamp militer di Cimahi pun, dia masih ragu sama urusan kiri kanan.
“Tiga langkah kiri ….”
“Kirinya siapa?” sahut Ziggyt.