Opera Wagner Pikoen

Aku lupa kenapa aku lengket sama Wagner. Faktor Herriot, faktor Nietzsche, dll. OK, tapi kenapa bukan Beethoven misalnya. Mungkin aku lupa kenapa aku bisa lekat, tapi mungkin aku lekat karena aku pelupa — dan aku pikir Wagner suka mendalang tentang para pelupa.

DAS RHEINGOLD
Wotan: “Keren tuh, calon istana kita.”
Fricka: “Keren apaan? Kamu menggadaikan Freia, saudariku yang cantik, buat bikin istana itu.”
Wotan: “Tenang. Aku punya strategi biar saudarimu tak diambil raksasa Fafner dan Fasolt itu dan kita tetap punya istana.”
Fricka: “Masa? Gimana strateginya?”
Wotan: “Itulah. Aku lupa.”

Loge: “Bisa jadi apa kamu dengan helm gituan?”
Alberich: “Bisa jadi … nagaaaa!” *cling*
Loge: “Ya deh, serem. Jadi gede mah gampang. Jadi kecil bisa nggak?”
Alberich: “Jadi kodok? Gile aje. Bisa donk.” *cling*
Loge: “Haha, sekarang kurampas helmmu. Nggak bisa balik deh.”
Alberich: “Balikin donk.”
Wotan: “Serahkan dulu cincinmu!”
Alberich: “Ogah!”
Wotan merebut cincin.
Loge: “Padahal tadinya kamu kan bisa pakai cincin itu buat melumpuhkan kami biarpun kamu masih kodok.”
Alberich: “Tadi aku mengubah diri jadi kodok kerdil, ijo, jelek, dan pikun. Aaaaa.”

DIE WALKÜRE
Siegmund: “Aku dulu kayaknya punya ibu dan saudari. Tapi udah lupa.”
Sieglinde: “Aku lupa bahwa saudaraku dulu pelupa. Tapi dulu ada orang tua meninggalkan pedang di pokok kayu di tengah rumah kami.”
Siegmund: “Keren. Kalau gitu kita bersaudara donk. Yuk sekalian jadi kekasih!”
Sieglinde: “Nggak melanggar hukum tuh?”
Siegmund: “Kan kita lupa.”

Fricka: “Jadi kamu terikat sumpah untuk tidak mengambil cincin itu, tetapi malah kabur puluhan tahun untuk bikin anak, terus mengajari anakmu untuk mengambil cincin itu? Kamu dewa apa profesor pikun sih?”
Wotan: “Duh, lupa. Telanjur nyuruh Brünnhilde belain Siegmund lagi.”
Fricka: “Ya udah. Diralat sana!”
Wotan: “Bilang apa aku ke Brünnhilde?”
Fricka: “Bilang aja kamu lupa.”

Brünnhilde: “Loh, aku menjalankan tugas Papi, kok malah dihukum sih?”
Wotan: “Nasib loe deh, punya Papi pikun.”

SIEGFRIED
Fafner: (Keren nih, aku punya cincin yang bisa bikin berkuasa, dan punya helm yang bisa mengubah aku jadi apa pun. Coba jadi apa ya? Naga aja deh.)
*cling*
Fafner: (Astaganaga. Aku naga penguasa. Eh, kalau udah berkuasa mau ngapain ya? Duh lupa. Udah ah, bobo aja di gua di hutan.)

Mime: (Keren juga, punya anak angkat sakti gini. Bisa diperalat bunuh naga dan mengambil cincin. Sekarang gua matiin pakai racun ah.)
Siegfried: “Papi; udah tau anaknya sakti kok mau dikhianati sih? Ya ketahuan donk!”
Mime: “Aaaa, lupa. Mati deh gue.”

Brünnhilde: “Siapa kamu?”
Siegfried: “Aku Siegfried.”
Brünnhilde: (Siegfried? Gile. Keponakan gue keren juga ya. Sayang, aku dulu gagal menyelamatkan ortunya. Ah, pura2 pikun ah)
Brünnhilde: “Siegfried, siapa kamu?”

GÖTTERDÄMMERUNG
Norn-1: “Tahukah kamu apa yang terjadi?”
Norn-2: “Tahu! Loe udah cerita 5-6 kali dari tadi.”
Norn-1: “Masa sih? Lupa euy.”
Norn-2: “Aku juga lupa sih. Cerita lagi yang ke-7 kali deh.”
Norn-3: “Mamaaaa!” (versi aslinya: hinab, zu mutter, hinab)

Siegfried: “Hoho. Cewek keren! Tapi aku nggak naksir. Udah punya cewek yang lebih keren: Brünnhilde!”
Gutrune: “Gitu deh kalau kehausan. Mengigau. Minum gih.”
Siegfried: “Wuih, segar. Eh, cewek keren. Jadi pacarku donk!”
Gutrune: “Kakakku aja belom punya pacar.”
Siegfried: “Gampang, aku cariin. Ada cewek keren di atas gunung sana, namanya Brünnhilde.”

Alberich: “Nak, kamu tidur?”
Hagen: “Kalau nggak tidur, mana mungkin Papie menemuiku dalam mimpi. Gimana sih?”
Alberich: “Jadi, kamu tidur?”

Brünnhilde: “Jadi tadi bukan kamu yang mengalahkanku, tapi Siegfried. Iya kan?”
Siegfried: “Memang dia kok.” (Trus pergi)
Gunther: “Duh, malah jadi malu aku.”
Brünnhilde: “Bunuh aja Siegfried.”
Gunther: “Kan kamu yang bikin malu. Kenapa Siegfried yang harus dibunuh?”
Brünnhilde: “Daripada bunuh aku, nggak jadi dapat pacar; mendingan bunuh Siegfried.”
Gunther: “Iya ya.”

Brünnhilde: “Sekarang lihatlah. Aku akan masuk api pembakar Siegfried ini. Nanti biar peri Rhein mengambil cincin dari abuku.”
Maka masuklah Brünnhilde ke api. Api membesar. Air Rhein meluap. Hagen tenggelam. Istana Gibichungs ternggelam. Luapan sungai membawa api meninggi ke atas. Akhirnya mencapai istana para dewa: Valhalla. Istana para dewa terbakar.
Peri Rhein: “Kok bisa ya, air sungai Rhein membesarkan api sampai ke angkasa.”
Wagner: “Hihi. Lupa.”

AKHIR TETRALOGI “DER RING”

PREVIEW TRISTAN
Tristan: “Jadi kita jatuh cinta itu gara-gara racun?”
Isolde: “Iya sih. Racunnya ketuker aji-aji pengasih. Lupa baca labelnya sih.”
Tristan: “Walah. Sekarang aji-ajinya udah nggak jalan. Gimana donk?”
Isolde: “Jalan terus aja deh. Pura-pura lupa bahwa ini cinta hasil ramuan.”
Tristan: “Duh, bisa diracun Raja Mark aku.”

PREVIEW PARSIFAL
Klingsor: “Jadi kamu siapa?”
Parsifal: “Nggak tau.”
Klingsor: “Keren.”

One thought on “Opera Wagner Pikoen”

  1. Tambahan untuk Die Walküre (The Valkyrie):

    Brünnhilde: “Papi, pasukan Valkyrie siap!”
    Wotan (baru dimarahin Fricka): “Bubarkan deh.”
    Brünnhilde: “Lho kenapa?”
    Wotan: “Tadi cuma tes kesiagaan.”
    Brünnhilde: “Papi, ini Valkyrie punya Wagner, bukan punya Tom Cruise!”
    Wotan: “Iya. Aku nggak pikun-pikun amat. Bubar sana.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.