Hilbert

Hayoo, lupa ya! Namanya kan Dilbert. Kok Hilbert? Hush. David Hilbert itu matematikawan terkemuka zaman awal mekanika kuantum. Dan selalu heran setiap melihat Einstein. “Setiap anak di Gottingen sini fasih bicara tentang dimensi keempat dan seterusnya. Dan justru Einstein yang menemukan relativitas.”

Hilbert pernah mengadukan istrinya ke fisikawan James Franck. “Duh istriku kejam sekali. Pagi ini aku sadar bahwa aku tidak diberi sarapan telur. Hanya Tuhan yang tahu berapa lama ini telah terjadi.”

Kadang ia justru yang mengejami diri sendiri. Saat makan malam dengan mengundang tamu, istrinya menyarankannya untuk mengganti dasi. Namun Hilbert tak juga turun menemui tamunya yang banyak sekali itu. Disusul ke ruangan, ia sudah tertidur. Ternyata setelah melepas dasi, ia otomatis meneruskan dengan kegiatan rutin: melepas pakaian, mengenakan piyama, naik tempat tidur, mengenakan selimut, dst.

Tapi kadang ia lebih parah dari itu. Seorang mahasiswanya sedang memecahkan hipotesin Riemann.Malangnya mahasiswa itu meninggal. Mewakili kampus, Hilbert menghadiri pemakaman si mahasiswa. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa almarhum adalah mahasiswa yang sebenarnya bisa punya masa depan cemerlang: ia cerdas dan ulet. Biarpun telah meninggalkan kita, kata Hilbert, formulasi dari almarhum dapat diteruskan penerusnya untuk kepentingan dunia sains yang lebih besar. “Sebagai contoh, misalkan kita memiliki fungsi dengan variabel kompleks sebagai berikut …” lalu ia asyik meneruskan formulasi matematikanya di depan nisan di bawah hujan.

Hilbert juga pernah dituduh pikun. Menuruti sebuah permintaan seminar, ia memberikan judul “Pembuktian Teorema Fermat yang Terakhir.” Pengunjungnya banyak sekali. Dan Hilbert memberikan kuliah umum yang panjang. Tapi sampai saat terakhir, ia sama sekali tidak menyinggung Fermat. Panitia mengira ia lupa, lalu mengingatkan. Hilbert cuma menjawab: “Oh, judul itu saya pakai kalau-kalau pesawat yang saya tumpangi kemarin jatuh.

One thought on “Hilbert”

  1. Tapi untuk menyentil, Hilbert suka pura-pura pikun.

    Hilbert memimpin departemen matematika di Gottingen hingga tahun 1930. Kemudian ia turun. Kebetulan saat itu Nazi mulai berkuasa. Para akademisi dan ilmuwan di Universitas Gottingen yang berdarah yahudi, atau beristri yahudi, dikerjai sampai harus mundur.

    Maka suatu hari Hilbert yang sudah tua diundang Mendiknas Jerman di awal tahun 1940an.
    Mendiknas: “Setelah Anda pensiun, bagaimana perkembangan matematika di Gottingen?”
    Hilbert: “Setahu saya tidak ada matematika di Gottingen.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.