Nevill Mott

Kebetulan lagi tak teringat kepelupaanku sendiri. Kita isi ruang dengan kepikunan orang lain :). Korbannya kali ini adalah Nevill Mott. Latar belakang dulu. Fisikawan ini sempat belajar fisika di Kopenhagen di bawah Niels Bohr dan di GΓΆttingen di bawah Max Born. Kemudian ia menjadi profesor fisika teori di Bristol, sebelum akhirnya menjadi Cavendish Professor of Physics di Cambridge.

Selesai dalam sebuah pertemuan di London, Mott naik kereta ke Bristol. Di tengah perjalanan, satu per satu ingatannya kembali dari urusan fisika ke urusan realita :). Pertama, ia sekarang tinggal di Cambridge, bukan di Bristol. Ini mengingatkannya pada fakta kedua: ia tadi pagi datang naik mobil dari Cambridge, bukan naik kereta. Dan dengan terkejut, ia ingat fakta ketiga: tadi pagi ia berangkat bersama istrinya. Entah sedang apa istrinya menunggunya di mobil di London, sementara Mott sedang dalam kereta ke arah Bristol.

Mott juga pernah merasa salah pesta. Waktu itu ia bergabung dalam pesta seorang rekan yang baru mendapatkan hadiah Nobel. Setelah berbincang dengan beberapa rekan lain, baru ia sadar bahwa semua yang ada di pesta itu pernah mendapatkan hadiah Nobel. Ia pun diam-diam pulang. Baru sekian belas tahun kemudian, ia akhirnya mendapatkan hadiah Nobel juga.

Kepikunan dalam hal-hal kecil bukan hal unik, pun di dunia ilmuwan. Bapak fisika Inggris, Isaac Newton, juga terkenal pikun kalau autisnya kumat. Pernah ia mengundang seorang rekan datang makan malam, tapi ia lupa mengatakannya ke penjaga rumah. Saat si tamu datang, Newton malah asyik berkutat dengan pekerjaannya, dan tak mau diganggu. Maka pelayan menyediakan makanan satu orang untuk sang tamu. Saat akhirnya Newton keluar, ia heran melihat meja makan sudah berisi nampan kosong. Ia tersenyum ke tamunya, lalu dengan heran berucap: “Kalau tidak melihat buktinya dengan mata kepala saya sendiri, saya berani bersumpah bahwa saya merasa belum makan malam ini.”

La Pere d’Adnan

Salinan dari: KUN.CO.RO:

Kali ini aku mau cerita tentang Bapaknya Adnan. Tokoh ini bekerja sebagai administratur dan penerjemah. Selain bahasa Arab dan Prancis, ia juga bisa bahasa Spanyol. Ia menyeberangi lautan luas (seluas selat Jabal Tarik dan Kanal Inggris) untuk menjumpai anaknya di Coventry. Dan di sanalah ia ketemu Koen si pengacau.

Act 1.

Adnan: Koen, here’s my father.
Koen: Hi, Sir. Nice to see you.
Bapak: Are you from Pakistan?
Koen: Oh, noo
Bapak: Where are you from?
Koen: Indonesia
Bapak: Are you muslim?
Koen: Why, yes.
Bapak: Alhamdulillah.

Trus makan bareng. Trus naik bis bareng. Trus aku kuliah.

Act 2.

Si Bapaknya di kampus sendirian. Ntah si Adnan ke mana. Bis penjemput sudah datang. Aku bilang ke sopirnya, mau jemput Bapaknya Adnan dulu.

Koen: We have to go now, Sir.
Bapak: But I’m Adnan’s father
Koen: I know
Bapak: Are you his friend?
Koen: Sure.
Bapak: Muslim?
Walah, nanya lagi.
Koen: Sure.
Bapak: From Pakistan?
Waduh biyung.
Koen: Indonesia, Sir. Let’s go now.

Jadi dia ikut aku. Kan orang muslim tidak akan menyesatkan :). Hmmm, emang kalau aku atheist pengikut Dawkins, trus aku bakal menyesatkan yach? Ah, pasti belum belajar Game Theory :). OK, so Adnan akhirnya masuk bis, terlambat, sambil dicemberuti si sopir.

Act 3.

Bapak si Adnan sendirian di meja. Anaknya masih cari cemilan sana sini. Aku duduk di sebelahnya.

Koen: Assalaamualaikum
Bapak: Alaikum salam. Are you muslim?
Koen: Alhamdulillah, still a muslim.
Bapak: But you are from India
Hmmm, setidaknya mulai geser ke timur. Mungkin besok pagi ke Bangladesh, trus 3 hari lagi sampai ke daerah Patani.
Koen: Nnnnnn, no no no. I’m from Indonesia.
Bapak: Muslim?
Koen: Insya Allah, Sir.

Trus … dia ikut makan dari piringku. Duh lagi kangen Bapakku sendiri. Kayaknya bahagia bener dapat Bapak baru :). I mean it.