Kasus VoIP

Akhir abad lalu, belum ada aturan VoIP di Indonesia. Beberapa pengusaha mencoba peruntungan dengan menjadi gateway2 VoIP kecil2an, dan bahkan membentuk jaringan. Lalu salah satu yang di Surabaya ditangkap, entah dengan alasan apa. Beritanya dimuat di Pikiran Rakyat. Dalam berita itu, tersangka di Surabaya memaparkan jaringan yang dioperasikannya, termasuk node Bandung. Membaca berita di koran itu, Polwiltabes Bandung bergerak melakukan penggerebekan. Tapi, tentu karena sifatnya karena membaca di koran, bukan berkoordinasi dengan Polwiltabes Surabaya misalnya, jadi mereka juga belum tahu apa yang harus dicari, dan apa sebabnya mereka harus menggerebek. Mereka hanya takut merasa bodoh kalau tidak melakukan penggerebegan, sementara berita kriminalitas itu sudah dipampang di media, lengkap dengan alamat. Maka akhirnya, mereka meminta bantuan Telkom Kandatel Bandung. Dan dari Telkom, kami menyempatkan diri meninjau lokasi. Ada PC yang jadi gateway, ada beberapa line telepon, dst, dst. Sisanya rumah biasa. Itu disita. Kami pulang. Dan ujug2, namaku tercatat sebagai saksi ahli. Ahli nujum. Dan besoknya harus ke Polwiltabes untuk memaparkan kesaksian.

Sang pengusaha bernama Adrian. Dia sudah dalam sel. Semua perangkat disita. Tapi polisi belum tahu apa itu VoIP, dan bahkan apa itu Internet. Jadi tugas awalku adalah memberikan kuliah singkat tentang. Tim penyidik diketuai Kapten Teguh (waktu itu pangkat di polisi masih mencontek AD). Tapi aku kemudian hanya diwawancarai oleh para anak buat sang Kapten.

Para polisi itu ingin sekali agar kasus ini jadi kasus besar, dan mencoba membawanya ke pasal2 korupsi, pencurian pulsa, dll. Tapi dengan diagram2, aku mencoba meyakinkan bahwa yang terjadi hanyalah usaha penyelenggaraan jasa telekomunikasi tanpa lisensi. Sebenarnya pihak Telkom tak perlu dilibatkan. Soal2 lisensi adalah bagian dari tugas Dirjen Postel. “Tapi kan Telkom dirugikan,” sergah sang polisi. Aku mencoba menunjukkan beda antara loss opportunity dengan fraud. “Telkom juga sudah punya teknologi ini. Tinggal disusun mekanisme bisnis dan regulasinya,” kataku. Benar2 hanya soal lisensi usaha. Kami tak menemui titik temu. Tapi hari sudah siang, dan laporan harus ditulis.

Maka WS7 pun dibuka di atas MSDOS Pak Polisi. Aku duduk di depan meja. Pusing, belum makan, dan berada dalam posisi yang tak menarik. Perlahan2, Pak Polisi mengulang pertanyaan, dan aku harus menjawab perlahan untuk diketik. Tapi entah pusing, entah pi-koen, aku selalu menyebut nama tersangka sebagai “Tersangka Teguh,” untuk mana Pak Polisi harus berhenti untuk memelototiku, sebelum aku menggantinya dengan “Tersangka Adrian.” Begitu terus sampai sore. Aku tahu aku pikun. Tapi kenapa aku harus memilih nama Kapten Teguh buat nama tersangka. Kurasa ada bagian hatiku yang terus protes. Aku rasa aku berhasil meyakinkan para polisi itu bahwa mereka memilih orang yang salah sebagai saksi ahli. Ahli nujum. Eh, tadi sudah ditulis.

Sore, akhirnya aku baru bisa keluar ruang. Tersangka Teg, eh Adrian duduk lesu di depan. Aku menghampiri, dan menyalaminya, sebagai sesama korban kekurangpengetahuanan pihak polisi.

Adrian berujar lirih, “Tolong saya, Pak.”
Aku cuman bisa bilang, “Ya, saya sudah tangkis tuduhan yang nggak2. Sekarang cuma soal lisensi.”
Adrian berkata lagi, “Tunggu saya, Pak.”

Duh, aku bener2 nggak suka meninggalkan dia. Tapi aku sudah seharian di tempat yang menyeramkan itu. Aku harus pergi.

Maafin aku, Pak Adrian.

One thought on “Kasus VoIP”

  1. wow. gue kenal adrian. n gue juga terkejut sekali bhw ini diupayakan menjadi fraud hanya karena perusahaan incumbent tidak melakukan prnya dan juga admin tidak stay on top…

    *sigh*
    thanks for telling the story Koen.
    sorry juga Dri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *