Adiknya Kuncoro

OK, waktunya menceritakan kelupaannya orang lain lagi :). Gantian donk.

Kakak dan adik-adikku semuanya pemain teater, waktu di SMA (SMAN 3 Malang, kalau aku nggak lupa). Dan cukup outstanding. Dari ketiga makhluk teater itu, hanya Dewi yang betul2 pernah sharing SMA bareng aku. Jadi kalau Dewi sedang berakting dengan kerennya di atas panggung, aku ikut menikmati teriakan “Itu adiknya Kuncorooo.”

Trus aku lulus. Tapi bukan berarti nggak nonton teater. Tetep aja menyempatkan diri ke Pagelaran Seni tahunan yang dulu selalu digelar di … duh apa namanya, lupa. Trus nonton bareng beberapa temen sesama alumni. Dan waktu Dewi tampil, temen di sebelahku (kakak kelas di SMA, waktu itu satu kampus dengan aku) dengan semangat teriak, “Itu adiknya Kuncoro!” Melihat aku diam menatap panggung, dia memegangku, trus teriak lagi, “Itu lho, adiknya Kuncoro.”

Aku jadi curiga. “Kuncoro yang mana sih?”
“Itu lho, Kuncoro yang Elektro. Itu adiknya Kuncoro. Masa sih nggak tahu?”

Ya, aku nggak bisa menyalahkan orang yang inget tokoh bernama Adiknya Kuncoro, sambil melupakan siapa yang beneran namanya Kuncoro. Nggak bisa. Soalnya aku juga lupa namanya dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.